HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-31, 11 Februari 2023

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-31, 11 Februari 2023

Setiap tahun pada tanggal 11 Februari selalu diperingati sebagai Hari Orang Sakit Sedunia. Demikian pula halnya di Rumah Sakit Harapan, setiap tahun pada tanggal 11 Februari juga ikut memperingati Hari Orang Sakit Sedunia dengan melakukan Perayaan Ekaristi. Momen ini merupakan momen yang istimewa untuk mendoakan orang-orang sakit.

Perayaan Ekaristi yang dilakukan tepatnya pada tanggal 11 Februari 2023 di Aula RS Harapan  dipimpin oleh
RP. Fransiskus Manullang OFM Cap.


Setelah Perayaan Ekaristi, Pastor Frans Manullang,OFMCap bersama dengan Direksi dan beberapa karyawan/ti mengunjungi dan mendoakan pasien yang rawat inap di RS Harapan sekaligus memberikan hadiah kecil dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia.

PESAN PAUS FRANSISKUS HARI ORANG SAKIT SEDUNIA XXXI  11 Februari 2023
“Rawatlah Dia” Belas Kasih sebagai Reksa Penyembuhan Sinodal

Sakit merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Tetapi, jika sakit itu ditanggung dalam kesendirian dan terabaikan, tanpa perhatian dan belas kasih, tentu dapat menjadi tidak manusiawi.

Bagaimana kita berjalan bersama: apakah kita benar-benar teman seperjalanan, atau hanya individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri pada jalan yang sama, dengan urusan masing-masing dan masa bodoh terhadap orang lain yang “berlalu”. Karena itu pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-31, Paus Fransiskus mengundang kita semua untuk merenungkan kenyataan bahwa justru melalui pengalaman kerapuhan dan kondisi sakit, kita dapat belajar berjalan bersama menurut gaya Allah, yakni kedekatan, belas kasih, dan kelembutan.

Seperti dikisahkan oleh perumpamaan Orang Samaria yang baik hati – dua pelintas, yang dianggap saleh dan religius, melihat orang yang terluka itu, tetapi tidak mau berhenti menolong. Tetapi, orang ketiga yang lewat yaitu orang Samaria, seorang asing yang dicemooh, justru tergerak hatinya, merawat orang yang terluka itu, dan memperlakukannya sebagai saudara. Dengan melakukannya, bahkan tanpa banyak berpikir, dia membuat perbedaan, dia membuat dunia lebih bersaudara.

Orang lain mungkin mengabaikan kita pada saat-saat rapuh atau pada saat-saat kita lemah, kita mungkin merasa bahwa kita sebaiknya meninggalkan orang lain supaya tidak menjadi beban. Begitulah kesepian muncul, dan kita dapat diracuni oleh rasa pahit ketidakadilan, seolah-olah Tuhan sendiri telah meninggalkan kita. Kita mungkin sulit berdamai dengan Tuhan ketika hubungan kita dengan orang lain dan diri kita sendiri rusak. Kita membutuhkan belas kasih yang

mengerti bagaimana berhenti sejenak, datang mendekat, menyembuhkan dan bangkit kembali.   Penderitaan orang sakit merupakan panggilan untuk menghentikan ketidakpedulian dan memperlambat langkah mereka yang berjalan sendirian seolah-olah tidak memiliki saudari dan

saudara. Hari Orang Sakit Sedunia mengajak kita untuk berdoa dan lebih dekat dengan mereka yang sedang menderita.

Orang Samaria memanggil pemilik penginapan untuk “merawat dia” (Luk. 10:35). Yesus menujukan panggilan yang sama kepada masing-masing dari kita. Ia mengutus kita, “pergilah dan pebuatlah demikian” (Luk. 10:37). Seperti Paus Fransiskus tuliskan dalam Fratelli Tutti, “perumpamaan (orang Samaria yang baik hati)” memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas dapat dibangun kembali oleh pria dan wanita yang menjadikan kerapuhan orang lain sebagai kerapuhannya sendiri, yang menolak pembangunan masyarakat yang ditandai dengan pengucilan, tetapi menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh, dan mengangkat serta memulihkannya, sehingga kebaikan itu menjadi kebaikan bersama (No. 67). Memang, “Kita diciptakan untuk suatu kepenuhan yang hanya dapat dicapai dalam cinta. Kita tidak dapat bersikap tak peduli pada orang yang menderita” (No. 68).